indo-matrix.com , sukses dari bisnis modal kecil

Rabu, 09 Maret 2011

Hakikat Pengabdian


Pengabdian berasal dari kata “abdi” yang artinya menghambakan diri, patuh, dan taat terhadap  siapa saja yang kita abdi.  Pengabdian diartikan sebagai perihal perilaku berbakti atau memperhamba diri kepada tugas yang (dianggap) mulia.
Di dalam Bahasa Arab, kata “abdi” terambil dari kata ‘abd  yang mengandung sedikitnya tiga arti, yaitu tumbuhan yang beraroma harum, anak panah, dan sesuatu yang dimiliki. Dari arti katanya, seorang abdi seharusnya menggambarkan ketiga hal diatas: dia beraroma harum bagi lingkungannya, bekerja bagaikan anak panah, dan dimiliki secara penuh oleh si pemilik atau kepada siapa dia mengabdi.

Setiap bentuk pengabdian didasarkan atas cinta. Cinta dapat membuat seseorang dibangkitkan emosi dan obsesinya untuk mewujudkan misi perjuangan kemanusiaannya. Seseorang yang menjadi pencinta tidak akan tinggal diam dan bahkan menangis ketika menyaksikan sesamanya ditimpa dan berbalut duka akibat bencana.[1]
Pengabdian bukan perbudakan, sebab perbudakan selalu disertai dengan paksaan dan ketakutan, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan. Tidak ada perbudakan yang menghasilkan kebahagiaan karena akan berakhir pada kehancuran. [2]
Saat Gubernur Jenderal Daendels mengumumkan kerja paksa membuat jalan raya Anyer sampai Panarukan sepanjang lebih kurang 1000 km, timbul penderitaan. Banyak rakyat pekerja rodi yang tewas. Pada tahun 1806, ketika Daendels membangun pelabuhan Ujung Kulon dengan cara kerja paksa lagi, sejumlah 1500 pekerja meninggal. Akibatnya, karena tidak tertahan lagi muncullah pemberontakan yang dipimpin oleh Mangkubumi Banten terhadap pemerintah Belanda.
Perbudakan bertolak belakang dengan pengabdian sebab pengabdian selalu disertai dengan rasa tulus dan ikhlas dalam melakukan tugasnya.
Ada sebuah buku yang menceritakan: ‘Unwan, seorang tua berusia 94 tahun yang tinggal di Madinah pada pertengahan abad ke-8 M dan dia sangat bersemangat untuk belajar, suatu ketika datang kepada Ja’far Al-Shadiq dan bertanya: ”Apakah hakikat pengabdian itu?”
Jafar Al-Shadiq menjawab: “Ada tiga macam. Pertama, seorang abdi tidak menganggap apa yang berada digenggaman tangan atau wewenangnya sebagai miliknya pribadi, karena hamba bukan berarti memiliki tapi dimiliki. Kedua, Segala aktivitasnya adalah berkisar pada yang diperintahkan, atau apa yang dilarang tuannya. Ketiga, tidak memastikan sesuatu pun kecuali setelah mendapat izin dari yang diabdi (tuannya).”[3]
Apabila seseorang tidak menganggap apa yang berada digenggaman tangan atau wewenangnya sebagai miliknya, maka segala kemampuannya akan keluar tanpa mempertimbangkan keuntungan apa pun. Seseorang yang menjadikan segala aktivitasnya berdasar apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang tidak akan mengisi waktunya dengan sia-sia: tidak untuk memperebutkan kursi kebanggaan maupun harta demi kemegahan. Dan seseorang yang tidak memastikan sesuatu kecuali setelah mendapat izin dari yang diabdi (tuannya), maka apa pun cobaan (tugas) yang dibebankan kepadanya akan dikerjakan dengan senang hati.
Pengabdian merupakan perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan antara lain kepada raja, cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas. Timbulnya pengabdian itu hakikatnya karena adanya rasa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Yang juga berarti perwujudan dari kesadaran akan kewajiban.
Pengabdian banyak ragamnya, seperti kepada keluarga, masyarakat, negara atau kepada tuhan. Kualitas pengabdian pun bergantung pada motivasi dan pandangan yang bersangkutan terhadap pengabdian itu. Pandangan pengabdian yang antroposentris berbeda dengan pandangan pengabdian yang teosentris, artinya dari aspek niat dan itikadnya meskipun pengabdian itu sangat membantu bagi manusia lainnya. Tindakan pengabdian pun belum tentu semuanya berdampak positif bagi masyarakat. Pandangan terhadap pengabdian pun berbeda-beda, adakalanya dianggap pamrih atau tanpa pamrih dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar