indo-matrix.com , sukses dari bisnis modal kecil

Rabu, 09 Maret 2011

Tauhid Sosial KH. Ahmad Dahlan


KH. Ahmad Dahlan dulu mengkontekstualisasikan ketauhidan dalam bentuk kampanye Anti-TBC. Fenomena Takhayul, Bid'ah, dan Khurafat menggerogoti aqidah umat karena menjadi bagian dari kepercayaan. Oleh karena itulah, Ahmad Dahlan dan murid-muridnya seperti Hasjim, Syuja', dan Fahruddin, lantas bergabung Mas Mansyur dan Sutan Mansyur, mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Gerakan ini bersifat modernis karena melawan tradisionalitas yang menyimpang dari aqidah.
Muhammadiyah berada dalam seting waktu abad ke-20. Pada waktu itu, seting sosial-politik adalah seting kolonial, dan umat sebagai "kawula" berada dalam posisi marjinal. Akibatnya, kondisi "tertindas" tersebut mengakibatkan penyimpangan aqidah. Ini yang kemudian menjadi sebab Muhammadiyah begitu giat memerangi Takhayul, Bid’ah dan Churafat (TBC) tetapi melakukannya dengan cara yang sangat mengakar, yaitu mendirikan sekolah dan rumah sakit kepada masyarakat miskin.

Ahmad Dahlan memperkenalkan cara berpikir yang sederhana: mengamalkan perintah Allah dalam Al-Qur’an secara nyata. Dalam konteks ini, Ahmad Dahlan mengajarkan murid-muridnya Surah Al-Ma’un secara berulang-ulang. Sudah barang tentu, murid-muridnya bertanya alas an Kyai Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un berulang-ulang. Ahmad Dahlan kemudian menjawabnya dengan sederhana: “sudahkah surah tersebut diamalkan?”
Ahmad Dahlan kemudian mengajak murid-muridnya ke pasar dan membeli kebutuhan hidup sehari-hari mereka, lantas pergi ke tempat orang-orang miskin dan memberikan barang-barang tersebut kepada mereka. Tak cukup sampai di situ, Ahmad Dahlan juga mengajak murid-muridnya untuk memelihara anak-anak yatim yang miskin, sebagaimana dipesankan dalam surah Al-Ma’un tersebut.
Artinya, Ahmad Dahlan mengajak kita untuk mengejawantahkan ajaran tauhid dan ayat-ayat Al-Qur’an dalam bentuknya yang sangat praksis dan implementatif, yaitu pengamalan nyata.[1]

Ahmad Dahlan dahulu menafsirkan Al-Maun dengan tiga kegiatan utama: pendidikan, kesehatan dan penyantunan orang miskin (membuat panti anak yatim-piatu) tatkala mendirikan Muhammadiyah. Dengan kata lain, melakukan transformasi pemahaman keagamaan dari sekadar doktrin-doktrin sakral dan “kurang berbunyi” secara sosial menjadi kerjasama atau koperasi untuk pembebasan manusia. Walaupun banyak kalangan melihat apa yang dilakukan Muhammadiyah tersebut masih sebatas transformasi pada tingkatan elite dan belum menyentuh grass root. Dalam konteks inilah teologi kerja Islam doktrin suci yang melampaui absolutisme teologis yang lebih bercorak standar ganda dan kurang respek dengan masalah kemiskinan menjadi teologi kerjasama atau (ta`awun `ala al-birri wa at-taqwa).[2]

Untuk mengatasi ketidakadilan sosial yang terjadi saat ini, maka Muhammadiyah sebagai persyarikatan perlu untuk menghidupkan lagi spirit al-Ma’un, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kyai Dahlan di awal-awal pendirian Muhammadiyah. Setidaknya ada beberapa pesan yang dapat di tangkap dari surat al-Ma’un, diantaranya adalah; pertama, orang yang menelantarkan kaum dhu’afa (mustadh’afiin) tergolong kedalam orang yang mendustakan agama. Kedua, ibadah shalat memiliki dimensi sosial, dalam arti tidak ada faedah shalat seseorang jika tidak dikerjakan dimensi sosialnya. Ketiga, mengerjakan amal saleh tidak boleh diiringi dengan sikap riya. Keempat, orang yang tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, bersikap egois dan egosentris termasuk kedalam orang yang mendustakan agama.[3]
Bila ingin dipadatkan lagi, empat buah pesan yang terkandung dalam surat al-Ma’un inilah yang menjadi cita-cita sosial Muhammadiyah, yaitu ukhuwah (persaudaraan), hurriyah (kemerdekaan), musawah (persamaan), dan ‘adaalah (keadilan).
Spirit inilah yang ditangkap oleh Kyai Dahlan dan diimplementasikannya dalam kehidupan sosial melalui persyarikatan Muhammadiyah. Nilai-nilai ini sejalan dengan misi Islam di muka bumi ini sebagai agama yang rahmatan lil’alamiin.
            Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan pernah berwasiat bahwa penyakit sejati adalah mensekutukan Tuhan dalam hal kekuasannya. Sedangkan obat sejati, adalah mengesakan Allah dengan sesungguh-sungguhnya. Namun jangan dilupakan bahwa tauhid juga menuntut ditegakkannya keadilan sosial. Dan keadilan sosial adalah realisasi tauhid sosial.


[2] journal.uii.ac.id/index.php/JEI/article/view/166/131(diakses tgl 10-1-2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar